Sejarah Perayaan Malam Tahun Baru Masehi
Perayaan malam Tahun Baru Masehi memiliki akar sejarah yang cukup panjang, berasal dari tradisi kuno Babilonia sekitar 4000 tahun lalu. Pada masa itu, bangsa Babilonia merayakan Akitu pada ekuinoks vernal Maret sebagai bentuk perayaan kemenangan dewa Marduk. Ritual ini melibatkan upacara selama 11 hari, termasuk penobatan raja.
Tradisi ini kemudian diadopsi oleh bangsa Romawi. Awalnya, mereka memulai tahun pada bulan Maret, tetapi Julius Caesar pada tahun 46 SM menetapkan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun untuk menghormati dewa Janus, dewa permulaan dengan dua wajah. Kalender Julian Caesar mencakup bulan Januari dan Februari, dengan perayaan berupa pengorbanan, tukar hadiah, dan pesta.
Pada abad pertengahan, Gereja Kristen mengadopsi tradisi ini sebagai Tahun Baru Masehi setelah kalender Gregorian diperkenalkan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582. Sejak saat itu, perayaan malam Tahun Baru Masehi menjadi bagian dari budaya global yang menandai pergantian tahun dalam kalender Gregorian.
Pandangan Umat Islam terhadap Perayaan Tahun Baru Masehi
Para ulama Islam menegaskan bahwa perayaan malam Tahun Baru Masehi bukanlah bagian dari ajaran Islam. Rasulullah sendiri tidak pernah mengajarkan umatnya untuk merayakan Tahun Baru Masehi. Bahkan, para ulama menyebut bahwa kegiatan seperti pesta kembang api dan berkumpul bersama bukanlah budaya Islam.
Ustaz Abdul Somad (UAS) menjelaskan bahwa Islam sangat tegas tentang aturan mengenai budaya yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Ia menekankan bahwa jika sudah menyangkut ibadah dan ritual, maka perayaan Tahun Baru Masehi tidak boleh dilakukan.
"Ketika masuk dalam ritual, ibadah, menyala-nyalakan lilin, apalagi membuang waktu percuma. Apalagi sampai membawa anak gadis orang yang bukan mahram, oleh sebab itu maka kita jaga (untuk tidak merayakan Tahun Baru Masehi)," kata UAS dalam ceramahnya.
UAS juga menyarankan agar malam pergantian Tahun Baru Masehi diisi dengan kegiatan yang lebih positif, seperti mengadakan tabligh akbar dan doa bersama. Namun, ia menekankan bahwa kegiatan tersebut bukan untuk menyambut Tahun Baru Masehi, melainkan untuk mencegah umat Muslim, khususnya anak-anak muda, melakukan tindakan maksiat.
Pandangan KH Yahya Zainul Ma'arif
KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menegaskan bahwa umat Muslim tidak boleh merayakan malam Tahun Baru Masehi. Menurutnya, yang dipermasalahkan bukanlah dzat bulan dan hari, tetapi kebiasaan dan kebudayaan yang terjadi pada saat itu.
"Apa yang dilakukan umat saat itu, berhura-hura, berfoya-foya," kata Buya Yahya. Ia menekankan bahwa Islam melarang kebiasaan buruk seperti mabuk dan berzina. Oleh karena itu, ia mengimbau umat Muslim untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih positif dan hindari perbuatan sia-sia yang hanya akan mendatangkan kemudaratan.

Buya Yahya juga menjelaskan bahwa meniup terompet dalam perayaan Tahun Baru Masehi memiliki arti tersendiri bagi kalangan non Muslim. Oleh karena itu, ia mengimbau agar umat Muslim tidak ikut serta dalam cara dan gaya perayaan orang-orang kafir.
Ayat Al-Qur'an dan Hadis yang Mendukung
Apa yang disampaikan UAS dan Buya Yahya sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 120:
"ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم قل إن هدى الله هو الهدى ولئن اتبعت أهواءهم بعد الذي جاءك من العلم ما لك من الله من ولي ولا نصير"
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."
Rasulullah juga pernah mengingatkan umatnya dalam sabdanya:
"عن أبي سعيد الخدري قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : لتتبعن سنن من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو سلكوا جحر ضب لسلكتموه قلنا يا رسول الله اليهود والنصارى قال فمن"
"Dari Abi Sa'id, dia berkata, Rasulullah bersabda: "Sungguh kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk lubang biawak pun, kamu ikut memasukinya. Kami bertanya, wahai Rasulallah, adakah yang engkau maksudkan itu orang-orang Yahudi dan Nasrani? Rasulullah bersabda: Maka siapakah lagi?"
Dua peringatan dari Allah dan Rasulullah ini menegaskan bahwa umat Islam diminta untuk waspada dan tidak ikut serta dalam budaya yang tidak pernah diajarkan oleh Islam. Umat Islam diminta untuk menjaga diri agar tidak jatuh dalam kesesatan.
