Pada tahun 2025, sektor energi di Indonesia mengalami perubahan signifikan dengan munculnya berbagai aksi akuisisi yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini terus memperluas portofolio bisnisnya baik dalam bidang tambang maupun minyak dan gas bumi (migas). Berikut adalah beberapa perusahaan yang melakukan akuisisi besar-besaran:
1. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI)
BUMI, yang merupakan bagian dari Grup Bakrie dan Grup Salim, melakukan dua aksi akuisisi saham di Australia. Pada 7 November 2025, BUMI menyelesaikan akuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas. Nilai transaksi mencapai 63,5 juta dolar Australia atau setara dengan Rp698,98 miliar.
Selain itu, BUMI juga menyelesaikan akuisisi Jubilee Metals Limited (JML) pada 18 Desember 2025. Transaksi ini bernilai Rp346,93 miliar atau sekitar 31,47 juta dolar Australia. Dengan demikian, BUMI memiliki kepemilikan sebesar 64,98% saham JML. JML sendiri merupakan perusahaan pertambangan emas yang sudah masuk tahap produksi.
Di dalam negeri, BUMI juga menjalin kesepakatan dengan PT Supreme Global Investment untuk mengakuisisi saham PT Laman Mining. Kesepakatan ini melibatkan pengambilalihan 45% saham PT Laman Mining dengan nilai pembelian sebesar US$59,1 juta atau setara dengan Rp988,86 miliar.
2. PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC)
Pada Juli 2025, MEDC menyelesaikan akuisisi Fortuna International (Barbados) Inc dari Repsol E&P S.Ã .r.l. Dengan akuisisi ini, MEDC meningkatkan hak partisipasi di Blok Corridor dari 46% menjadi 70%. Nilai transaksi mencapai US$425 juta atau setara dengan Rp6,92 triliun.
Selain itu, MEDC juga mengambil alih 45% hak partisipasi di Blok Sakakemang dan 80% hak partisipasi di Blok South Sakakemang. Selain itu, MEDC juga menambah kepemilikan saham di PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) sehingga porsi efektif MEDC menjadi 40%.
3. PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU)
RATU melakukan akuisisi 100% saham SMS Development Limited untuk memperkuat portofolio usahanya di segmen migas. Akuisisi ini dilakukan oleh anak usaha RATU, PT Raharja Energi Madura (PT REM) pada 25 Desember 2025. Saat ini, RATU sedang bertransformasi menjadi operator hulu migas dengan fokus pada ekspansi non-operating investment melalui akuisisi participating interest (PI) pada PSC berskala besar.
4. Arsari Group
Arsari Group, yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo, gencar melakukan ekspansi bisnis di sektor tambang dan migas. Terbaru, melalui anak usahanya PT Nations Natuna Barat, Arsari akan mengakuisisi 75% hak partisipasi di Blok Duyung. Selain itu, Arsari Group juga berencana mengakuisisi tambang di Kanada dengan nilai sekitar Rp7 triliun.
5. PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT)
Emiten batu bara ini telah menyelesaikan akuisisi PT Bara Enim Sejahtera pada Juli 2025. Dengan akuisisi ini, SMMT mendapatkan kendali atas PT Triaryani yang memiliki cadangan batu bara sebesar 273 juta MT.
6. PT ABM Investama Tbk. (ABMM)
ABMM melalui anak usahanya mengumumkan akan mengakuisisi saham PT Piranti Jaya Utama senilai US$57 juta atau setara dengan Rp939,36 miliar. Transaksi ini dilakukan oleh anak perusahaan PT Reswara Minergi Hartama (RWA).
7. Pertamina
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) resmi mengakuisisi 24,5% hak partisipasi di Blok Bobara dari Petroliam Nasional Berhad (Petronas). Selain itu, Pertamina juga mengakuisisi saham PT Patra SK sebesar 14% dan 20% saham Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) sebagai bagian dari strategi pengembangan energi hijau.
8. Sinar Mas Group
Frontier Resources, perusahaan terafiliasi Sinar Mas Group, diketahui berencana mengakuisisi Hyundai LNG Shipping. Nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar 3,8 triliun won Korea Selatan atau setara dengan Rp43,05 triliun.