
Mengawali tahun baru 2026 pada Kamis, 1 Januari lalu, saya memulai aktivitas olahraga jalan kaki usai salat subuh di jalanan seputar perumahan tempat saya tinggal. Ada suasana berbeda yang saya rasakan saat melintasi rumah-rumah tetangga.
Terasa sepi, lampu-lampu teras dan garasi masih menyala, belum satu pun saya berpapasan dengan tetangga lain sejak keluar rumah pada pukul 05.50 Wita, yang biasanya ada beraktivitas olahraga atau membersihkan halaman.
Hari itu saya benar-benar berjalan sendirian. Saya menduga, mereka menikmati malam tahun baru bersama keluarga atau sekedar menikmati suasana kota dengan kembang api di seputar Tepian Sungai Mahakam, sehingga masih meringkuk dalam pelukan hangat selimut.
Barulah setelah 3o menit jalan kaki, satu-dua tetangga mulai keluar rumah, membuka pintu pagar, mengeluarkan kendaraan, membuang sampah dan ada pula berolahraga bulu tangkis. Akhirnya, saya bisa tersenyum dan bersapa dengan mereka.
Tapi, olahraga jalan kaki sendirian dan hanya bolak-balik depan rumah, kurang menggairahkan. Para tetangga baik masih menikmati liburan bersama keluarga di luar kota.
Maka pada Jumat malam, saya mengirim pesan singkat melalui whatsapp kepada dua tetangga, menayakan apakah sudah pulang dari luar kota dan mengajak olahraga bersama. Ternyata, gayung bersambut!
***
Sabtu pagi tadi, dua tetangga menjemput saya dengan kendaraan roda empat. Kami sepakat menuju Gelanggang Olahraga Kadrie Oening di wilayah Sempaja, Samarinda.
Cuaca mendung dan sedikit gerimis menyambut kami di perjalanan, namun tidak menyurutkan semangat kami untuk sehat jiwa dan raga. Sesampai di sana, rupanya rombongan para bapak tetangga -- termasuk suami saya, juga telah sampai di GOR dengan kendaran lain.
Kami bertiga mulai melangkahkan kaki, tak lupa menyetel pengaturan olahraga jalan kaki pada smartwatch, dan mengitari bundaran GOR. Sayangnya,mendekati satu kali putaran sekitar 850 meter, gerimis makin mengundang. Terpaksa kami berteduh sejenak di salah satu gedung.
***
Suami teman saya menelpon, mengajak untuk berpindah ke teras gedung utama stadion. Di sana ada sekumpulan orang berolahraga senam aerobik dengan iringan musik berdentum ceria. Kami setuju menyusul ke sana.
Setelah sekian lama saya tidak melakukan olahraga ini, tanpa terasa tubuh saya ikut meliuk mengikuti irama dan gerakan instruktur yang mempimpin senam di teras atas. Mulai dari pemanasan, senam inti, hingga pendinginan.
Dengan iringan musik jedag-jedug dari alat pengeras suara, Pak Teguh Jaya dari Fit and Fun Club --kami mengenalnya setelah selesai senam bersama, memandu peserta dengan gerakan-gerakan lincah, menghentak dan sesekali bergoyang sesuai lagu-lagu remix kekinian.
Saking intensnya gerakan yang beliau contohkan, saya mengikuti dengan semangat pula seperti peserta lainnya hingga notifikasi di smartwatch yang saya kenakan bergetar, menunjukkan tanda bahwa ritme detak jantung saya mencapai ambang batas!
Wah, padahal saya suka cita mengikuti gerakan-gerakan instruktur, ikut berteriak gaduh atau tertawa girang di sela-sela olahraga. Ditambah pula melihat gerakan lucu dari kelompok para bapak, yang bergoyang suka-suka, asal badan meliuk asyik mengikuti irama.
Napas saya hampir tersengal. 33 menit saja tapi badan bersimbah peluh. Asli, gobyos! Sedangkan biasanya saya berkeringat sebasah itu jika sudah mencapai 4 kilometer dalam waktu 1 jam. Namun kali ini, hanya kurang lebih setengah jam, tubuh sudah kuyub luar biasa!
Saya sempat merekam momen kebersamaan ini dengan video dan foto, berharap kelak suatu saat ketika kembali berolahraga di GOR, bisa ikut nimbrung senam aerobik lagi bersama mereka.
***
Untuk mengobati kepenatan berolahraga, kami bertiga sepakat menuju ke Rumah Sarapan, warung makan langganan yang menyuguhkan menu khusus di hari Santu dan Ahad, yaitu Bubur Manado
Saya kerap menyantap sajian menu dari Rumah Sarapan. Baik itu Lontong Cap Gomeh, Soto Ayam atau Rice Bowl with Chicken Teriyaki.
Namun pilihan pagi tadi, jatuh pada Bubur Manado. Sudah lama saya tak menikmati bubur lezat asal Provinsi Sulawesi Utara ini. Sajian ini cocok dengan cuaca yang masih mendung dingin.
Pertama kali mencicipi makanan ini, justru ketika saya berhijrah ke Kota Tepian Mahakam dan menyukai segala jenis bubur.
Penasaran dengan asal-usulnya, saya pun beetanya memalui Meta AI dan membaca satu-dua artikel tentang bubur unik ini.
Bubur Manado adalah salah satu makanan khas dari Manado, Sulawesi Utara, Indonesia. Bubur Manado terbuat dari campuran berbagai jenis sayuran, seperti labu siam, jagung, kacang panjang, dan daun singkong, yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah. Makanan ini memiliki rasa yang gurih dan tekstur yang kental.
Namun Bubur Manado yang biasa saya nikmati adalah bubir tanpa santan, cukup dengan air biasa, dengan topping sayur kangkung atau bayam, jagung dan labu kuning.
Bubur Manado biasanya disajikan dengan tambahan seperti ikan teri, daging ayam, atau telur, dan sering kali disajikan sebagai hidangan utama atau sarapan. Makanan ini dikenal karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan rasanya yang lezat.
Sedan0gkan saya pribadi, lebih menyukai dengan tambahan ikan asin, tempe dan tahu goreng serta sambal uleg.
Bubur Manado juga dikenal sebagai "Tinutuan" di beberapa daerah di Sulawesi Utara.
Tinutuan adalah nama lain dari Bubur Manado, berasal dari bahasa Manado, yang berarti "campuran" atau "adonan". Tinutuan sering kali disajikan sebagai hidangan utama atau sarapan, dan merupakan salah satu makanan khas yang paling populer di Sulawesi Utara.
Tak terasa, peluh tak lagi meresahkan. Perut sudah kenyang, tubuh terasa segar. Meski sudah bawa air putih dalam botol kemasan, eh, tetap saja segelas es teh tawar ikut menyegarkan tenggorokan.
Semoga hari-hati berikutnya, saya bisa menjaga jadwal berolahraga baik melakukannya sendiri atau bersama dengan pata tetangga baik.
Salam sehat dan ingat bahagia!
***
Artikel ke-1 2026
#Tulisanke-631
#ArtikelFoodie
#BuburManado
#RumahSarapanSamarinda
#SenamAerobik
#GORKadrieOening
#NulisdiKompasiana