Potret TPU Karet Pasar Baru Barat: Penuh, Hanya Layani Makam Tumpang

Erlita Irmania
0


JAKARTA, Erfa News
— Di tengah deru kendaraan di Jalan KH Mas Mansyur, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, berdiri sebuah kawasan yang kontras dengan hiruk-pikuk sekitarnya.

Hanya beberapa meter dari jalan protokol yang dipadati gedung perkantoran, hotel, dan apartemen mewah, suasana berubah drastis ketika langkah kaki mulai menapaki gerbang Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Pasar Baru Barat.

Begitu melewati gapura besi di depan, hawa panas kota mendadak tergantikan oleh keteduhan pepohonan besar yang menaungi jalan setapak sempit. Udara terasa lembap, aroma tanah basah bercampur wangi rumput baru dipotong. Dari kejauhan, terdengar suara sapu lidi yang ritmis menyapu dedaunan kering. Seekor kucing melintas perlahan di antara nisan-nisan yang berdiri rapat, sementara burung pipit sesekali beterbangan di atas dahan flamboyan tua. Hanya sesekali terdengar suara langkah petugas berpakaian oranye yang tengah bekerja atau lirih doa dari seorang peziarah yang duduk di tepi makam blok A2.

TPU Karet Pasar Baru Barat (PSBB) tampak seperti “pulau hijau” di tengah lautan beton ibu kota. Dari atas gedung-gedung tinggi di sekitarnya, area seluas hampir 6,9 hektare itu tampak mencolok karena dipenuhi rimbunan pohon dan deretan batu nisan yang tersusun rapat.

Sudah Penuh Sejak 2017
Seluruh lahan kini telah terisi penuh sejak 2017. “Sudah penuh sejak tahun 2017. Sekarang hanya melayani makam tumpang saja,” ujar Ade Rendra, operator TPU Karet Pasar Baru Barat, saat ditemui Rabu (22/10/2025).

Ade menunjukkan peta kawasan TPU yang terbagi menjadi lima blok besar AA1, AA2, A1, A2, dan A3. “Bedanya hanya di lokasi biar tertata. Di setiap blok ada beberapa blat, totalnya 51 blat,” tutur Ade sambil menunjuk peta lusuh di dinding ruang operator yang warnanya mulai memudar karena panas dan lembap.

TPU ini merupakan area pemakaman khusus umat Islam yang dikelola oleh Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Pusat Zona 1, bersama TPU Karet Bivak. Di hari-hari biasa, suasana TPU cenderung sepi. Hanya satu dua peziarah datang membawa bunga tabur dan air mawar. Di antara nisan-nisan tua, petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) terlihat tekun menyapu jalan setapak, memotong rumput liar, dan mengangkut tumpukan daun kering ke gerobak.

“Pembabatan rumput kami lakukan rutin, Senin sampai Jumat. Penyapuan dan pengangkutan sampah dilakukan setiap hari. Di sini ada empat zona kerja supaya area tetap bersih,” jelas Ade. Selain petugas resmi, beberapa keluarga juga mempekerjakan perawat pribadi untuk membersihkan makam anggota keluarga mereka. “Itu boleh, asal tidak mengganggu area makam lain dan tetap sesuai aturan,” kata dia.

Namun suasana berubah ketika akhir pekan tiba. Jumlah peziarah meningkat, terutama pada Minggu pagi atau menjelang hari besar keagamaan. “Kalau Sabtu atau Minggu biasanya agak ramai. Tapi di luar itu, ya sepi begini saja. Satu dua orang saja yang datang,” ujar Ade, menatap barisan nisan yang berdiri rapat tanpa celah tanah kosong.

Di beberapa sudut TPU, terdapat sejumlah makam yang tampak menonjol dari tanah di sekitarnya. Permukaannya lebih tinggi sekitar 40–60 sentimeter dibanding makam di sekelilingnya. “Nah, itu biasanya tanda makam tumpang tiga,” ujar Ade, sambil menunjuk deretan nisan di blok A1 yang berdiri rapat. Di salah satu makam, tampak tiga nama berbeda terukir di atas satu batu nisan besar. Pada bagian bawah tertera tahun wafat 1994, di tengah 2010, dan di bagian atas 2023 menandakan tiga generasi keluarga dimakamkan di liang yang sama.

Setiap ada penambahan jenazah, lapisan tanah akan ditinggikan dan diberi nisan tambahan yang menampilkan semua nama penghuni liang. “Kalau sudah tiga orang, tanahnya jadi makin tinggi. Makam seperti itu malah sering dirawat lebih baik karena biasanya keluarga besar yang sering datang,” ujar dia. Kondisi tersebut membuat permukaan tanah di beberapa area tampak bergelombang.

Makam Bertumpuk Tiga Ini Jadi Solusi
Kepadatan makam di TPU Karet Pasar Baru Barat membuat pemakaman baru tak lagi mungkin. Sejak delapan tahun terakhir, satu-satunya opsi bagi warga yang ingin dimakamkan di sini adalah makam tumpang. Jenazah baru dimakamkan di atas liang keluarga yang sudah ada, dengan syarat izin dan persetujuan ahli waris.

Kepala Satuan Pelaksana TPU Zona 1, Rizki Septia Hadi, menjelaskan bahwa kebijakan ini diterapkan karena tidak ada lagi lahan baru di wilayah Jakarta Pusat. “Kalau ada warga yang ingin dimakamkan tapi tidak punya anggota keluarga yang dimakamkan di sini, kami arahkan ke TPU lain seperti Tegal Alur atau Srengseng Sawah,” kata Rizki.

Dari Januari hingga Oktober 2025, tercatat 815 pemakaman tumpang dilakukan di TPU Karet Pasar Baru Barat. Setiap harinya rata-rata ada satu hingga tiga prosesi pemakaman, meski pada waktu-waktu tertentu bisa mencapai lima kali dalam sehari. Untuk melakukan pemakaman tumpang, keluarga harus menyiapkan dokumen seperti Izin Penggunaan Tanah Makam (IPTM) lama, surat kematian, fotokopi KTP dan KK ahli waris, serta akta kematian.

“Kalau akta kematian belum keluar, bisa menyusul setelah prosesi pemakaman. Kami memahami kondisi keluarga yang sedang berduka,” kata dia. Satu petak makam umumnya dapat menampung hingga empat jenazah, meski dalam kondisi tertentu bisa mencapai lima atau enam, tergantung kedalaman liang dan persetujuan keluarga.

Jakarta Pusat Kehabisan Lahan
Keterbatasan lahan pemakaman bukan hanya terjadi di Karet Pasar Baru Barat. Dari empat TPU yang dikelola Pemkot Jakarta Pusat, yakni Karet Bivak, Karet Pasar Baru Barat, Kawi-Kawi, dan Petamburan, hanya TPU Petamburan yang masih memiliki lahan kosong, itupun kurang dari 20 petak.

“Khusus Jakarta Pusat, hampir tidak mungkin menambah atau memperluas TPU karena sulit sekali menemukan lahan terbuka,” ujar Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Pusat Mila Ananda kepada Erfa News. “Harga tanah di kawasan ini tinggi, bisa mencapai Rp 15 juta per meter persegi. Untuk satu petak makam saja, biayanya bisa lebih dari Rp 56 juta,” tambah dia.

Upaya pembebasan lahan untuk perluasan TPU kerap terkendala oleh minimnya ruang terbuka dan penolakan warga sekitar. Namun, Pemprov DKI Jakarta tetap berupaya memperluas ketersediaan lahan di wilayah lain. Caranya dengan berkoordinasi lintas wilayah agar warga Jakarta Pusat bisa dimakamkan di TPU yang masih punya lahan, seperti di Jakarta Timur, Selatan, atau Barat.

Kebijakan pemakaman di Jakarta mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pelayanan Pemakaman. Dalam aturan itu disebutkan, satu petak makam idealnya dapat digunakan untuk tiga jenazah dengan jarak antar pemakaman minimal tiga tahun. “Namun karena kondisi lahan yang terbatas, praktiknya bisa lebih dari itu, tentu dengan persetujuan ahli waris,” kata Mila.

Upaya lain seperti penerapan pemakaman vertikal atau sistem kremasi pernah dibahas, tetapi hingga kini belum bisa diterapkan secara luas. “Harus hati-hati karena faktor budaya dan agama di Jakarta masih sangat kuat. Masyarakat belum siap dengan konsep pemakaman modern seperti itu,” imbuh dia.

Langkah Pemprov DKI
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui sejumlah TPU di wilayah Jakarta mulai penuh. Ia mengatakan, Pemprov DKI akan menggelar rapat khusus pekan depan guna membahas solusi keterbatasan lahan pemakaman di Ibu Kota. “Kami sudah berkomunikasi, dan saya sudah minta untuk diagendakan minggu depan kita akan rapat khusus mengenai pemakaman di Jakarta,” ujar Pramono di Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Rabu.

Pemprov DKI tengah mengumpulkan data dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota terkait kapasitas dan ketersediaan lahan di seluruh TPU. “Mengenai angkanya nanti Dinas Pertamanan yang akan sampaikan. Kalau sudah detail, saya akan jawab lagi,” katanya. Ia juga membuka peluang untuk mengkaji pemakaman bertingkat maupun pembukaan lahan baru di luar wilayah Jakarta. “Beberapa mengusulkan untuk membuat pemakaman di luar Jakarta. Sekarang sedang kami pikirkan, dan sebentar lagi akan saya putuskan,” ujar Pramono.

Cerita dari Tengah Pemakaman
Meski padat dan penuh, bagi sebagian warga sekitar, TPU Karet Pasar Baru Barat bukan hanya tempat peristirahatan terakhir, melainkan juga ruang batin untuk mengenang keluarga. Di antara nisan yang berdiri rapat, banyak kisah yang tersimpan. Ada yang datang setiap Jumat sore membawa bunga kamboja, ada pula yang sekadar duduk di bawah pohon flamboyan besar sambil menatap nisan orang tuanya dalam diam.

Salah satunya adalah Bayati (54), warga Karet Tengsin, yang rutin menziarahi makam suaminya setiap pekan. “Saya sudah biasa ke sini tiap Minggu. Rasanya tenang saja. Di sini memang ramai makamnya, tapi suasananya damai,” ucapnya pelan. Ia mengaku sempat khawatir tidak bisa dimakamkan satu liang dengan suaminya karena lahan sudah penuh. “Untung bisa ditumpang. Kalau enggak, mungkin harus ke Tegal Alur, jauh banget,” katanya, sambil menabur bunga di atas makam sang suami.

Meski ruang terbatas, pengelola terus berupaya menjaga ketertiban dan kenyamanan bagi peziarah. Area parkir kecil di depan kantor operator kini ditata ulang agar tidak mengganggu lalu lintas di jalan utama. Petugas juga rutin mengingatkan keluarga agar tidak membangun bangunan tambahan di atas makam. “Aturannya jelas. Di atas makam hanya boleh ada plakat, nisan, atau rumput. Tidak boleh dibeton atau dibuat rumah makam,” tegas Rizki. “Tujuannya agar area tetap rapi dan tidak menghambat proses tumpangan di masa depan,” lanjutnya.

Selain itu, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI kini menyediakan layanan daring ‘Ketersediaan Petak Pemakaman’ agar masyarakat dapat memeriksa TPU yang masih memiliki slot kosong tanpa harus datang langsung. “Melalui sistem itu, warga bisa tahu TPU mana yang masih tersedia, termasuk status petak yang bisa ditumpang,” jelas Rizki.

Sunyi di Tengah Hiruk-Pikuk Kota
Menjelang siang, cahaya matahari menyelinap di antara dahan pohon beringin. Bayangan nisan memanjang di atas tanah, sementara suara azan dari masjid sekitar menggema lembut menembus keheningan. Di tengah padatnya Jakarta, TPU Karet Pasar Baru Barat menjadi oase yang sunyi ruang perenungan di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Meski seluruh petaknya telah terisi, kehidupan tetap berputar di sekitarnya petugas yang setia membersihkan makam, keluarga yang datang berziarah, dan doa-doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Sebuah tempat yang mungkin kecil di peta kota, tetapi besar dalam ingatan banyak orang sunyi di tengah padatnya makam, damai di jantung hiruk-pikuk Jakarta.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default