Mengungkap Fakta PLTU Pesisir Jawa yang Akan Dihentikan

Erlita Irmania
0


Pagi di Kota Cirebon pada pertengahan November cukup cerah. Gunung Ciremai yang berada di sisi tenggara menambahkan pemandangan indah di langit biru. Tapi, muncul rasa penasaran, apakah di pesisir laut tempat PLTU batu bara beroperasi, langit masih sama birunya?

Sehari sebelumnya, saya mendapat undangan dari pengelola PLTU Cirebon-1. Area itu terbuka untuk dikunjungi oleh sejumlah wartawan, agar bisa melihat langsung kondisi lingkungan sekitar.

Joseph Pangalila, Wakil Direktur Utama PT Cirebon Electric Power, mengajak saya untuk datang dan melihat sendiri bagaimana kondisi PLTU tersebut. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah lingkungan benar-benar bersih atau hanya bersih dalam dokumen saja.

Dari pusat Kota Cirebon, butuh sekitar 30 menit perjalanan darat ke arah timur untuk tiba di PLTU Cirebon-1. PLTU yang mulai beroperasi pada tahun 2012 ini berdiri kokoh di pesisir Laut Jawa, tepatnya di Desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Dari pos penjagaan di gerbang masuk, sejumlah bangunan besar di area seluas 150 hektare mulai terlihat. Segerombolan burung bertengger di salah satu bangunan tersebut. Ini membuat saya sedikit mengangkat kepala dan melihat ke atas. Langit tetap biru, meski agak redup karena awan mendung.

Cara Kerja PLTU

Kami beranjak ke kantor PT Cirebon Electric Power. Sebelum melihat aktivitas PLTU lebih dekat, setiap pengunjung wajib mengenakan alat pelindung diri seperti helm, vest, sepatu, kacamata pelindung, dan ear plug.

Dari area kantor, tampak corong tinggi yang hampir menyentuh langit dengan kepulan asap tipis di atasnya. Corong itu mengeluarkan asap dari pembakaran batu bara yang berlangsung 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Mesin hanya berhenti saat pemeliharaan atau Major Over Haul (MOH) setiap dua tahun sekali, dengan durasi sekitar 10-47 hari.

Setiap hari, sekitar 7.000-8.000 ton batu bara dibakar untuk menghasilkan 660 MW listrik. Uap panas dari pembakaran batu bara menggerakkan turbin, lalu diubah menjadi energi listrik.

Menurut catatan perusahaan, emisi Nitrogen Oksida (NOX) yang dihasilkan sekitar 200 mg/Nm kubik dari baku mutu 550 mg/Nm kubik. Untuk emisi Sulfur Dioksida (SO2), angkanya sekitar 140 mg/Nm kubik dari baku mutu 550 mg/Nm kubik. Total partikulatnya berada di angka sekitar 20 mg/Nm kubik dari puncak 100 mg/Nm kubik.

PLTU Cirebon-1 menggunakan teknologi supercritical boiler, sehingga pembakaran lebih sempurna dengan residu lebih sedikit dibandingkan teknologi subcritical boiler. Saat itu, asap tipis memang tidak sampai membuat langit jadi gelap. Namun, ketika mesin dinyalakan kembali setelah pengecekan rutin, asap terlihat lebih gelap dan tebal.

“Saat mesin dimatikan, lalu dinyalakan lagi, biasanya kita pakai solar, ya, itu agak menghitam sedikit (asapnya). Sangat wajar,” kata Agik Dwika, Environmental Engineer PT CEP.

Selain asap, pembakaran juga menghasilkan debu dari batu bara. Debu halus ini dialirkan ke tabung besar fly ash silo berkapasitas 1.300 ton. Sementara itu, batu sisa pembakaran ditampung di bawah mesin boiler untuk dialihkan ke industri semen. Proses transfer menggunakan truk, dari Cirebon menuju pabrik semen di Narogong, Jawa Barat.

Pagi itu, pembakaran batu bara untuk memutar turbin listrik tengah berjalan. Dari jarak kurang lebih 600 meter, tak terdengar suara bising yang mengganggu. Tapi, saat mendekat, terdengar deru mesin yang jelas menandakan aktivitas produksi sedang berjalan. Ketika berbincang, saya perlu menambahkan sedikit volume suara agar bisa mendengar suara lawan bicara.

Dampak PLTU Cirebon-1 ke Perairan Kawasan Pesisir Jawa

PLTU membutuhkan air untuk mendinginkan uap bekas pemutar turbin. Penempatan di tepi pantai memudahkan akses ke air laut yang melimpah.

PLTU Cirebon-1 menggunakan teknologi cooling tower untuk mendinginkan air kondensasi bekas uap turbinnya. Dalam proses pendinginan, terjadi pertukaran suhu panas antara uap pemutar turbin dan suhu normal air laut. Setelah melalui proses pendinginan, air dikembalikan ke laut dalam suhu normal.

Fasilitas pendingin ini berada di belakang mesin boiler serta fasilitas lainnya. Posisinya langsung berbatasan dengan Laut Jawa. Jejeran cooling tower itu berdiri dengan satu gerbang mengekor ke arah laut. Gerbang ini mengalirkan air bekas pendinginan yang suhunya sudah kembali normal, 30-31 derajat Celcius.

Di sekitar aliran pembuangan air itu, pohon-pohon bakau (mangrove) tumbuh cukup subur. Agik bercerita, di bawahnya ramai dihuni kepiting bakau. Kurang lebih sekitar 500 meter dari gerbang pembuangan air, terlihat bambu-bambu menancap, berisi harapan akan ditumbuhi biota laut seperti kerang hijau. Masyarakat memanfaatkan area tersebut untuk mencari penghasilan.

Di sisi timur, sebuah conveyor belt melintang kurang lebih sepanjang 2 km dari jetty atau dermaga, menuju fasilitas pembakaran batu bara PLTU. Sepanjang itu, conveyor yang mengangkut batu bara ini tertutup rapat.

Menurut Agik, hal itu dibutuhkan untuk memastikan tidak ada debu atau serpihan batu bara yang beterbangan. Proses transfer muatan dari kapal tongkang ke dermaga pun dilengkapi penadah di bagian bawah, agar batu bara tak jatuh ke laut.

“Di bagian bawah antara celah dermaga dengan tongkang itu kita pasang penahan. Di atasnya ada extension atau perpanjangan tangan untuk menutup celahnya. Jadi double containment,” jelasnya.

Dari pangkal dermaga tersebut, saya dan rekan lainnya diajak beralih ke muara Sungai Kanci yang berada tepat di barat PLTU. Dalam perjalanan, terlihat lahan berisi tumpukan batu bara.

Batu bara kiriman dari Kalimantan, diletakkan di area bernama stockpile. Lahan itu bisa menampung 127 ribu ton batu bara. Sepanjang tepi lahan tersebut ditanami dengan pohon, untuk menghalau debu beterbangan dari tempatnya. Tumpukan batu bara ini juga rutin disiram, agar tidak terlalu kering dan mudah terbawa angin.

Namun, karena lahan itu terbuka, guyuran air hujan bisa menyapu sedikit demi sedikit batu bara. Oleh karena itu, mereka memasang filter, lalu menampung dan mengendapkan airnya di Coal Run Off Settling Pond. Air tersebut akan diolah untuk menetralkan tingkat keasamannya (pH), pengendapan, filtrasi, pengolahan hingga mencapai baku mutu air yang layak.

Muara di Serambi PLTU

Di tepi PLTU, beberapa warung berdinding kayu bersandar layaknya perahu. Warung-warung itu menjual gorengan, kopi, dan minuman lain, dengan target pembeli para pekerja di PLTU. Bangunan kayu itu berdiri di tepian Sungai Kanci yang bermuara ke Laut Jawa.

Kala masuk musim hujan, air sungai lebih coklat dari biasanya. Sungai itu melintasi wilayah Cirebon termasuk sampah-sampah di dalamnya. Beberapa bahkan tersangkut di akar mangrove yang tumbuh di samping PLTU itu.

Hari itu tidak ada aktivitas di antara tembok pemisah PLTU dan warung kayu itu. Hanya ada katrol yang menjuntai menyeberangi tembok. Katrol itu jadi media para pekerja dan pedagang bertransaksi.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default