
Storytelling esai reflektif tentang ruang, ingatan, dan komunitas pembaca
Tahun Baru 2026 menghadirkan suasana yang berbeda. Ada jeda kecil dalam ritme kehidupan kota, sebuah ruang hening yang membuat langkah terasa lebih ringan, seolah Jakarta memberi kesempatan untuk memulai sesuatu dengan hati yang lebih lapang.
Suasana itulah yang terasa pada Jumat, 2 Januari 2026, ketika Klub Baca Pangeran dari Timur (PdT), yang lebih dikenal dengan nama Membaca Raden Saleh (MRS), mengunjungi Toko Buku Kobam Menteng untuk bersilaturahmi sekaligus membuka tahun dengan membaca.
Pertemuan itu sederhana, tanpa seremoni. Namun justru di situlah maknanya mengendap panjang.
Di sebuah ruang kecil, dua gerakan literasi yang sama-sama lahir dari kegelisahan sejarah akhirnya saling menyapa, di tengah zaman ketika minat baca kian tergerus, dan layar digital semakin mendominasi keseharian.
Kobam: Gerakan Melawan Lupa yang Lahir dari ReformasiUntuk memahami makna pertemuan ini, kita perlu menengok ke tahun 1998. Di tengah riuh Reformasi, ketika Indonesia sedang menata ulang dirinya, sejarawan J.J. Rizal mendirikan Komunitas Bambu (Kobam) pada 20 Mei 1998.
Kobam lahir bukan sebagai entitas bisnis, melainkan sebagai gerakan literasi sejarah, upaya mengembalikan sejarah ke tangan publik setelah puluhan tahun dikuasai narasi tunggal.
Dari sebuah kamar kos, Kobam tumbuh menjadi penerbit independen yang menerbitkan ratusan buku penting tentang sejarah, politik, budaya, serta tokoh-tokoh yang lama disisihkan dari ingatan kolektif.
Dua dekade kemudian, Kobam berkembang menjadi ruang fisik: toko buku, kafe, dan ruang diskusi.
Cabang Depok tumbuh dari keheningan rumah yang rimbun.
Cabang Menteng hadir sebagai jeda di tengah hiruk-pikuk kota.
Dan di ruang inilah Klub Baca PdT datang berkunjung.
MRS: Membaca Sejarah dengan BergerakKlub Baca Pangeran dari Timur merupakan bagian dari gerakan literasi yang lebih luas bernama Membaca Raden Saleh (MRS).
Gerakan ini berangkat dari novel sejarah Pangeran dari Timur, karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, dengan penyuntingan oleh Endah Sulwesi.
MRS bukan sekadar klub baca. Ia adalah komunitas pembaca yang bergerak, membaca sejarah tidak hanya dari halaman buku, tetapi juga dari ruang-ruang hidup yang menjadi latar kisah.
MRS dalam garis besar:
Gerakan literasi untuk membangkitkan minat baca.Fokus pada pembacaan bersama novel Pangeran dari Timur.Diinisiasi oleh Iksaka Banu, Kurnia Effendi, dan Endah Sulwesi.Kegiatan yang dijalankan:
Membaca satu bab PdT dalam setiap pertemuan.Diskusi sejarah, ceramah singkat, dan dialog lintas generasi.Kunjungan ke lokasi bersejarah---museum, rumah tokoh, hingga makam Raden Saleh.Pola membaca tidak kronologis, menjadikan pengalaman membaca lebih interaktif dan penuh kejutan.Nama Membaca Raden Saleh dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada sang pelukis besar yang menjadi figur penting dalam novel.
MRS menjadi cara untuk menghidupkan kembali jejak Raden Saleh melalui membaca, berdiskusi, dan berjalan bersama.
Kobam Menteng: Ruang Kecil yang Merawat Keheningan KotaKetika para anggota MRS memasuki Kobam Menteng di awal tahun 2026, suasananya terasa seperti dua aliran kecil yang akhirnya bertemu.
Pintu kayu tua menyambut dengan hangat. Di atasnya, papan hijau bertuliskan "KOBAR Toko Buku dan Kafe" menggantung sederhana, cukup untuk membuat langkah melambat.
Di dalam, rak-rak kayu berisi buku-buku sejarah berdiri tenang. Pencahayaan lembut membuat ruang terasa seperti ruang tamu seorang sahabat lama.
Aroma kopi Mustikarasa dan Toba Na Sae mengalir pelan dari sudut kafe, berpadu dengan suara halus lembaran buku yang dibalik.
Kobam Menteng seolah mengajarkan satu hal penting: membaca tidak harus terburu-buru. Pengetahuan justru tumbuh dari keheningan yang dirawat.
Ketika MRS Membaca di KobamPara anggota MRS duduk melingkar, membuka novel PdT, lalu membaca satu bab, seperti yang selalu mereka lakukan. Namun kali ini suasananya berbeda.
Membaca di Kobam terasa seperti membaca di tempat yang "mengerti" mereka: ruang yang sejak awal berdiri untuk merawat ingatan bangsa.
Usai membaca, diskusi pun mengalir. Tentang Raden Saleh, tentang kolonialisme, tentang bagaimana sejarah kerap ditulis dari sudut pandang yang sempit. Ada yang bertanya, ada yang menanggapi, ada pula yang memilih diam sambil menggenggam secangkir kopi hangat.
Di halaman depan, percakapan berlanjut secara lebih cair. Ada yang berbagi pengalaman mengunjungi museum, ada yang membahas bab favorit dari novel. Kobam menjadi ruang perjumpaan gagasan, pengalaman, dan rasa ingin tahu.
Di Tengah Minat Baca yang Menurun, Komunitas Menjadi HarapanKunjungan ini terasa semakin bermakna karena terjadi di masa ketika minat baca buku terus menurun. Layar digital menguasai perhatian, algoritma menggantikan percakapan, dan membaca kerap dianggap aktivitas yang "memakan waktu".
Namun komunitas seperti MRS membuktikan hal sebaliknya. Masih ada pembaca setia. Masih ada orang-orang yang rela meluangkan waktu untuk membuka buku, berdiskusi, dan berjalan bersama menelusuri jejak sejarah.
Gerakan semacam ini mengingatkan kita bahwa literasi tidak harus lahir dari institusi besar. Ia bisa tumbuh dari ruang kecil, dari beberapa orang yang sepakat duduk bersama dan membuka buku yang sama.
Dari situlah percakapan berkembang, minat baca bertunas, dan perlahan, tanpa disadari, budaya literasi yang lebih sehat mulai dibangun.
Semoga semakin banyak klub baca yang terjalin.
Semoga semakin banyak ruang seperti Kobam yang menjadi rumah bagi para pembaca.
Dan semoga, di tengah dunia yang serba cepat ini, kita tetap menemukan waktu untuk membuka buku, dan membuka diri.
Penutup: Awal Tahun yang MenjanjikanSaat Klub Baca PdT meninggalkan Kobam Menteng sore itu, langit Jakarta mulai meredup. Namun percakapan yang mereka tinggalkan seakan masih menggantung di udara, tentang sejarah, tentang Raden Saleh, tentang masa depan literasi Indonesia.
Kobam tetap berdiri sebagai rumah bagi mereka yang mencari makna.
MRS terus berjalan sebagai komunitas yang membaca sambil bergerak.
Dan mungkin, di tahun 2026 ini, keduanya akan kembali bertemu, di ruang lain, di bab lain, dalam percakapan lain yang terus merawat ingatan bangsa.
Penulis: Merza Gamal
Pensiunan Gaul Banyak Acara, Pencinta Buku
Terus semangat!!! Tetap Semangat...