
Permukiman di Jalan Awaludin II: Wajah Buram Sanitasi di Jakarta Pusat
Di Jalan Awaludin II, Kebon Pala III, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, terdapat permukiman yang menghadapi tantangan besar dalam hal sanitasi. Wilayah ini berada di RT 15, RT 16, dan RT 17 RW 14, yang terletak dekat bantaran Kali Krukut. Wilayah ini membentuk kantong hunian kumuh yang belum mendapatkan perbaikan selama bertahun-tahun.
Rumah-rumah di wilayah tersebut tampak menjorok ke bibir kali. Dinding sebagian besar terbuat dari seng, tripleks, dan papan lapuk. Ventilasi dan ruang terbuka sangat minim, membuat kondisi lingkungan menjadi tidak nyaman. Beberapa pipa dari rumah warga langsung mengalir ke kali, dengan diameter kecil dan sebagian hanya menggunakan selang fleksibel. Limbah domestik dibuang tanpa penampungan atau sistem pengolahan, menciptakan campuran antara air limbah dan sampah rumah tangga yang mengambang di permukaan kali.
Di salah satu gang sempit, terdapat toilet umum tiga pintu yang tampak lusuh. Dinding kayu catnya sudah mengelupas, lantai becek, dan saluran pembuangan langsung ke kali. Pipa pembuangan dari toilet tipis dan hanya mengandalkan gravitasi untuk mengalirkan limbah. Tidak ada bak penampungan atau filter, sehingga setiap penggunaan langsung mengalir ke air. Aroma limbah tercium dari luar pintu, dan lantai yang becek menyulitkan warga yang menggunakan alas kaki seadanya.
Toilet ini digunakan bergantian oleh beberapa kepala keluarga yang tidak memiliki fasilitas MCK sendiri di rumah. Kondisi yang sama juga terlihat di beberapa rumah yang menempel ke kali. Setiap bak kamar mandi kecil memiliki selang atau pipa yang ujungnya langsung ke air, sehingga tidak ada satupun rumah yang memiliki sistem pengolahan limbah mandiri.
Limbah MCK Mengalir ke Kali
Rohmah (35), warga RT 17 RW 14, membenarkan bahwa fasilitas MCK warga masih langsung ke kali. "Ya, MCK yang langsung ke kali itu masih dipakai warga," kata Rohmah saat ditemui Erfa News. Ia menambahkan bahwa masyarakat ingin fasilitas yang lebih layak, tetapi ketiadaan infrastruktur memaksa mereka tetap menggunakan jalur pembuangan ke kali.
Marlina (34), warga RT 15 RW 14, menyoroti dampak dari MCK dan kondisi lingkungan secara keseluruhan. "Kalau dibilang kumuh ya memang kumuh. Rumah berdempetan, lantai banyak yang rapuh, terus sampah di kali numpuk," katanya. Ia menambahkan bahwa warga tidak punya pilihan selain bertahan di lokasi tersebut.
Anak-anak tetap bermain di sekitar kali, meski berisiko terkena penyakit kulit atau gangguan pencernaan akibat air yang tercemar. Suryadi (43), warga RT 16 RW 14, menjelaskan lebih detail soal kebiasaan pembuangan limbah. "Dari saya pertama tinggal di sini tahun 2008 memang sudah begini. Kebanyakan sampah dari warga juga, sisa rumah tangga. Tapi kadang ada kiriman dari atas kali," tuturnya.
Selain limbah MCK, persoalan sampah rumah tangga juga menjadi perhatian. Warga mengaku sebagian besar sampah tetap dibuang ke kali karena keterbatasan akses ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). "Kalau tempat sampah jauh dan kecil, orang bingung mau buang ke mana. Kebanyakan buang ke kali karena paling dekat," kata Suryadi. Ia juga menambahkan risiko anak-anak yang bermain di sekitar air kali sering sakit, mulai dari gatal-gatal hingga batuk lama.
Kondisi Toilet dan Pipa Pembuangan
Pengamatan Erfa News di lokasi menunjukkan bahwa saluran pembuangan MCK di beberapa rumah dan toilet umum benar-benar terbuka. Pipa PVC berukuran sekitar 2–3 inci keluar dari tembok, dan ujungnya langsung mengarah ke kali tanpa penampungan. Beberapa rumah bahkan hanya menggunakan selang fleksibel yang diikat seadanya ke dinding, sehingga setiap penggunaan toilet langsung mengalir ke air.
Di toilet umum tiga pintu yang berwarna merah, setiap bilik memiliki lubang lantai berlubang tanpa wadah. Lantai becek dipenuhi air limbah yang terus menetes ke pipa, dan aroma menyengat menyebar hingga gang sempit. Tidak ada sistem penampungan atau filter, dan lantai semen sudah retak sehingga limpahan air mudah menetes ke permukaan tanah yang berada di bawah bangunan.
Beberapa rumah menjorok ke kali dengan tiang kayu penyangga yang rapuh. Pipa pembuangan dari bak mandi dan toilet rumah langsung diarahkan ke bawah teras, kemudian mengalir ke kali. Tidak ada bak penampungan, sehingga semua limbah cair langsung memasuki Kali Krukut. Kondisi ini semakin diperparah oleh sampah plastik, styrofoam, dan kain bekas yang menutupi permukaan air, menciptakan limbah padat bercampur cair yang stagnan.
Harapan Warga
Warga berharap percepatan pembangunan fasilitas MCK yang layak dan pengerukan normalisasi kali dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. "Harapan kami, pihak terkait bisa mempercepat pengerukan dan pembuatan MCK yang layak," kata Suryadi. Warga juga berharap pemerintah mempercepat normalisasi kali dan pengerukan sedimen agar aliran air lancar dan risiko banjir berkurang.
"Kalau pengerukan cepat dilakukan, mungkin kondisi kali bisa lebih bersih, dan kami bisa menggunakan MCK yang layak, bukan yang langsung ke kali," kata Rohmah. Ia juga menekankan pentingnya tindakan nyata dari pemerintah. "Bukan hanya janji, tapi harus ada fasilitas sanitasi yang memadai dan pengerukan kali yang rutin. Anak-anak kami perlu lingkungan yang lebih sehat," tuturnya.
Dampak Urbanisasi
Mahawan Karuniasa, Pakar Lingkungan dan Dosen Universitas Indonesia, menegaskan bahwa persoalan ini merupakan dampak urbanisasi yang tidak terkendali. "Permukiman padat, kumuh, dan kantong kemiskinan tidak muncul tiba-tiba. Ini hasil dari proses panjang urbanisasi dari desa ke kota, karena kondisi ekonomi di desa tidak mendukung kesejahteraan," kata dia. Banyak yang datang ke kota dengan harapan sejahtera, tapi realitas biaya hidup tinggi memaksa mereka tinggal di ruang marginal, termasuk bantaran sungai.
Menurut Mahawan, kondisi sanitasi buruk terjadi karena rumah-rumah menempel hingga ke sempadan sungai. Limbah domestik langsung dibuang ke kali, sungai menyempit, dan kualitas air menurun. "Ini berdampak risiko lingkungan tinggi, termasuk potensi banjir saat hujan, serta risiko kesehatan dari air yang tercemar," katanya.
Solusi menurut Mahawan harus menyentuh aspek struktural relokasi terbatas, penyediaan fasilitas sanitasi komunal, TPS 3R, edukasi lingkungan, dan penegakan aturan. "Selain itu, tata ruang harus konsisten, sehingga ekosistem sungai bisa direstorasi. Edukasi yang tepat membantu memutus siklus kemiskinan dan kerentanan kualitas lingkungan," katanya.
Normalisasi Kali dan Kesadaran Warga
Sejumlah petugas Sumber Daya Air (SDA) tampak melakukan pengerukan sedimentasi di kawasan ini dengan alat berat kecil. Proses pengerukan berlangsung terbatas karena permukiman menempel langsung ke bibir kali. Lumpur hitam bercampur sampah diangkat dari aliran sempit, memperlihatkan betapa terhambatnya fungsi hidrologis Kali Krukut akibat padatnya permukiman, limbah MCK, dan sampah rumah tangga.
Warga berharap pengerukan dapat diperluas dan dilanjutkan secara rutin. "Kalau normalisasi kali berlanjut, semoga air lebih lancar, dan rumah kami tidak kebanjiran. Semoga MCK yang layak juga segera dibangun," kata Suryadi.