Lelaki yang Diam, Dalam Dua Babak

Erlita Irmania
0
Lelaki yang Diam, Dalam Dua Babak

Cerita Pendek: Alief El-Ichwan

Alief El-Ichwan adalah seorang penulis yang telah menghasilkan berbagai karya seperti cerpen, puisi, artikel, dan esai yang terbit di berbagai media. Cerpennya terangkum dalam antologi Kelas Cerpen Kompas (2017) dan Kelas Menulis Cerpen Tempo (2024). Alief juga terpilih sebagai peserta Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025.

Babak Pertama

Luka kerat sembilu tidak akan sebanding dengan luka kalbu seorang lelaki yang terusir dari rumah. Terpisah dari anak perempuan yang akan menikah, dan anak lelaki istimewanya penyandang autis, sekarang sudah remaja. Semua desakan adik istrinya, karena dia tak lagi menafkahi. Giris mengenangnya serasa diiris, saat istrinya membenarkan keputusan itu.

Lelaki itu hanya tersenyum. Garis bibirnya bergerak putus, ketika putrinya bilang: "Bagaimana kalau Ayah kembali lagi dengan Ibu seperti dulu," cetusnya, sambil menatap penuh asa. Kalimat ini, seperti membuka luka tiga tahun lalu, yang belum sembuh. Saat itu, putrinya sengaja menemuinya. Mengabarkan kekasihnya akan datang bersama keluarganya hendak meminangnya.

Kau tak akan merasakan: bagaimana luka seorang lelaki yang tenggelam lumpur penghinaan. Gigih harus bertempur meredakan amarah. Meredakan dendam. “Ayah sudah memaafkan Ibumu, tapi tak bisa jika harus seperti dulu,” jawabnya, sambil menatap putrinya. Tak lama lagi akan melepaskan lajangnya. “Tak perlu khawatir, Ayah akan menjadi walimu nanti,” lanjutnya meyakinkan. “Juga Ayah tetap akan ke rumah mengunjungi adikmu, Fadhil. Sebab Ayahlah yang paling memahaminya.”

Dia memang terusir, dianggap tak mampu lagi menafkahi. Desakan adik istrinya bagai gema sumbang. Sejak dulu, adik iparnya tak menyukai kehadirannya. Mungkin karena lelaki satu-satunya di keluarga istrinya. Lelaki itu ingat: ketika kali pertama mengunjungi rumah calon istrinya, Abah mendadak menyodorkan kitab suci. Membukanya di sembarang halaman. Lalu, saat disuruh membacanya, lelaki itu dengan lancar melafalnya selaras dengan makhroj, hingga membuat Abah tersenyum. Namun orang tua itu telah lama wafat. Sehingga saat ini, tak seorang pun bisa membelanya.

Desakan adik istrinya bagai suara gedoran terus merecoki. Padahal ia masih memiliki dana kehidupan. Penghasilan dari rumah kost yang ia miliki. Meski hampa ketika wabah Covid melanda. Meninggalkan kamar-kamar kosong dan senyap. Namun, ada pula sawah dan kolam ikan warisan yang menuai panen. Bahkan dua mobil, juga sebuah vila di kawasan bukit di timur kota—ia serahkan pada istri dan anak perempuannya. Sejak dulu, lelaki itu tak menguasai atas namanya. Baginya, itu semua usaha keringatnya.

Lelaki itu luntang-lantung dengan beban di pundaknya. Tak lagi tidur di rumahnya. Ia menginap di kost yang kosong. Kadang tidur di vila. Sekali waktu tinggal di rumah orangtuanya di kampung, yang kini lengang. Namun sesekali ke rumah, menemui anaknya. Mengajaknya seperti biasa main. Ah, anaknya ini bagai hidup dalam cangkang kaca. Lelaki itu tak pernah memahami secara sempurna. Diajarkannya bagaimana menjadi manusia. Meski harus diulang-ulang terkadang mendulang lelah dan putus asa. Bahkan sekolah berganti sekolah, terapi ke terapi hanya menyi­sakan laut tak bertepi. Sementara istrinya bekerja sebagai dokter spesialis kulit di sebuah rumah sakit.

Perasaan hampa merayapi hari-harinya yang tak lagi diisi oleh rutinitas keluarga. Tapi kemudian, takdir berbelok. Kesibukan baru menghampirinya, mengisi kekosongan yang selama ini menganga. Lelaki itu kini disibukkan dengan pembangunan sebuah pesantren. Dua keponakannya, seolah dikirim oleh tangan tak terlihat. Datang memberikan jalan. Keduanya memberikan dana yang cukup besar. Jumlahnya, mengejutkan.

Lelaki itu bersyukur, mungkin inilah hadiah dari Allah. Sebuah hikmah yang tak terduga. Tanah bagian warisan ayah mereka di kampung, agar dibangun sekolah penghafal Al-Qur’an. Jika tak berpisah dengan istrinya, mungkin ia tak akan pernah bisa mengerjakan. Kesibukan itu, seolah menjadi penawar luka. Sebuah bukti bahwa Tuhan tak pernah ingkar janji, bahwa ada kesulitan ada kemudahan, di balik kehilangan, akan selalu ada anugerah. Seperti oase di tengah gurun kehampaan. Lelaki itu seperti melupakan lubang luka. Bahwa sekalipun terbuang, ia tak akan tumbang.

Babak Kedua

Genggaman tangan kaku dan dingin, namun bukan karena sentuhan calon menantunya. Ada getarannya dari dalam. Menjalar dari setiap serat saraf yang berontak dalam diam. Lelaki itu memegang erat, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang kian menggila. Suasana sakral mencengkeram lebih kental. Lintasan gambaran yang berputar di benak laksana teratak bangkit terbangun. Ada tawa riang putrinya saat masih balita. Langkah-langkah kecilnya belajar berjalan, tawa dan celoteh anak manja yang dulu selalu mengisi rumah. Rumah yang kini tak lagi ia sebut miliknya.

Suara penghulu sayup-sayup terdengar, mengulang lafaz ijab kabul yang akan segera ia ucapkan. Tenggorokannya terasa tercekat. Lekat bak lumpur memenuhi rongga suara. Bukan karena kesedihan melepas sang putri, yang ia besarkan dengan segenap jiwa. Duka itu ada, tentu saja, namun terselubung rasa yang lebih menghunjam, lebih menusuk. Perih itu datang dari kenyataan bahwa ia, seorang ayah, akan menikahkan anaknya, namun tak lagi sebagai suami-istri. Ia melihat sekilas wajah mantan istrinya di antara kerumunan tamu. Tak ada sorot dendam, tak ada cibiran, hanya tatapan kosong yang justru semakin menyayat.

Lelaki itu tak mengundang siapa pun. Bahkan undangan yang disediakan, tak diedarkan. Meski tak ada seorang pun yang mendengarnya. Sebab lelaki itu tak membuka pada siapa pun beban yang disandangnya. Namun ia tak sanggup membayangkan tatapan teman-teman dulu di kampus, atau kolega lamanya saat masih menjadi jurnalis. Bagaimana mereka akan memandangnya? Sebagai pria yang terbuang, yang tak sanggup mempertahankan bahtera rumah tangga? Rasa malu itu membelit, meski ini bagian takdir yang hadir dalam perjalanan hidupnya.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Ananda..." Suara lelaki itu akhirnya pecah, serak dihantam beban yang bertahun-tahun ia pikul. Setiap suku kata yang keluar dari bibirnya seperti tetesan nanah dan darah luka yang terus menganga.

Bukan hanya putrinya yang ia lepas hari ini, tapi juga kepingan terakhir dari citra dirinya sebagai penyangga rumah tangga. Tangannya gemetar, bukan karena usia, melainkan karena pertempuran batin yang tak berkesudahan. Ia menatap putrinya, yang kini telah resmi menjadi seorang istri, dan di mata putrinya, ia melihat secercah kelegaan. Kelegaan yang entah mengapa, justru terasa belati menghunjam lebih dalam.

Fadhil, sang putra istimewa, berdiri di sampingnya ketika tetamu menyalami. Putranya seolah merasakan kegelisahan ayahnya. Tangannya yang lembut meraih lengan ayahnya, memberikan sentuhan yang menenangkan. Hanya sang putra penyandang autis, yang paling memahami dalam diam. Seperti keistimewaan anaknya, dia bisa melihat alur pantulan bola basket. Hingga membuat heran tetangga, ketika tanpa permisi menerobos ke kamar anaknya, lalu mengambil bola dari kolong tempat tidur. Permainan basketlah yang disukainya. Hanya Fadhil yang melihat air mata yang tak jatuh, hanya Fadhil yang mendengar teriakan tak bersuara.

Saat ijab kabul selesai diucapkan, dan doa-doa mengalir memenuhi ruangan, lelaki itu hanya terdiam. Ia membiarkan gemuruh di dadanya mereda, membiarkan luka itu menge lupas tinggal bekas. Ia telah melewati ini, babak ini. Luka yang tak akan sebanding luka sembilu. Dalam diamnya, ia tahu, perjalanannya belum usai. Luka ini akan menjadi bagian dari dirinya. Membentuknya dan memahat kisah seorang lelaki yang tak bicara dan tak merapat. Namun hanya berteriak dalam setiap hembusan napasnya...

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default