Kisah Wanita Penjaga Eretan di Jakut, Kontrakan Menunggak Tanpa Bantuan

Erlita Irmania
0


JAKARTA, Erfa News
Di tengah kesibukan kehidupan di ibu kota, Moza (35) harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya. Sejak suaminya meninggal dunia, ia menjalani hidup sebagai ibu tunggal yang bekerja keras agar bisa memberi makan dan menyekolahkan putranya. Salah satu pekerjaannya adalah menjadi penjaga eretan di Kali Gendong, Cilincing, Jakarta Utara.

Setiap pagi pukul 06.00 WIB, Moza sudah tiba di lokasi kerjanya. Ia akan bekerja hingga pukul 20.30 WIB. Meskipun bekerja lebih dari 12 jam sehari, penghasilannya hanya sekitar Rp 100.000 per hari. Meski pendapatannya tidak besar, Moza tetap bersyukur karena bisa membayar kontrakan, biaya sekolah, serta kebutuhan sehari-hari anak-anaknya.

Masalah Kontrakan

Pendapatan Moza sebesar Rp 100.000 per hari seringkali hanya cukup untuk kebutuhan makan dan transportasi anak-anaknya. Namun, ia selalu berusaha menabung sedikit demi sedikit untuk membayar kontrakan. Sayangnya, untuk bulan ini, Moza belum memiliki uang sama sekali untuk membayar kontrakan.

"Kami orang single moms. Kontrakan dibayarkan secara cicilan, sebulan Rp 600.000. Bulan ini belum bayar, tidak ada uang," ujar Moza.

Tidak Pernah Menerima Bantuan

Moza mengaku tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah. Ia baru saja mulai membuat BPJS Kesehatan, sedangkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan bantuan sosial lainnya juga belum pernah diterimanya.

Anak pertama Moza berusia 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD, sementara anak keduanya berusia 7 tahun dan baru masuk kelas 1 SD. Keduanya belajar di sekolah swasta. Untungnya, SPP sekolah kedua anak Moza gratis karena adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, ia masih menghadapi biaya buku sekolah yang tidak terlalu besar, meski tidak sampai Rp 1 juta.

Moza pernah mengajukan KJP ke pihak sekolah, namun tidak diterima. "Sekolah bilang dari pemerintah tidak dapat," katanya.

Eretan sebagai Rumah Kedua

Eretan kayu yang dijaganya memiliki lebar sekitar dua meter dan panjang sekitar tiga meter. Transportasi tradisional ini dibangun seperti jembatan, sehingga pengendara hanya perlu melintas di atasnya tanpa perlu menarik tambang.

Di sisi kiri dan kanan eretan, Moza membangun bangku kayu panjang untuk duduk dan menyimpan perabot rumah tangga. Di sisi kiri, terdapat dispenser, kompor, perlengkapan masak, dan galon air mineral. Di sisi kanannya, terdapat cermin, kasur, lemari, hingga kipas angin.

"Di sini seperti rumah kedua saya. Bisa buat istirahat dan masak," kata Moza.

Pengendara yang Melintasi Eretan

Setiap harinya, ratusan pengendara motor, pesepeda, dan pejalan kaki melewati eretan Moza. Orang-orang yang melintas biasanya pekerja, anak sekolah, atau warga yang ingin memotong jalan.

Setiap pengendara yang lewat biasanya membayar jasa eretan sekitar Rp 2.000. Jika pengendara tidak membawa uang atau enggan membayar, Moza tidak pernah memaksa. "Banyak yang tidak bayar, bilang bakal balik lagi, tapi tidak pernah kembali," ujar dia.

Harapan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Moza berharap pemerintah bisa terus mengizinkan eretan tersebut beroperasi di Kali Gendong. Jika tidak, maka dirinya dan puluhan tukang eretan lainnya akan kehilangan mata pencaharian.

"Pemerintah biarkan lah begini, ini jalan pintas yang membantu saya menghidupkan anak yatim," ucap Moza.

Pandangan Pengamat Transportasi

Menurut Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno, eksistensi eretan di Kali Gendong bisa terus dijaga karena masih dibutuhkan oleh warga. Kali Gendong belum memiliki jembatan untuk penyeberangan, sehingga warga setempat menciptakan jasa eretan.

Djoko menilai, eretan di Kali Gendong bisa dikembangkan menjadi wisata jika dibuat lebih menarik sesuai standar keamanan. Penggunaan APBD Kota Jakarta bisa dipertimbangkan untuk membangun puluhan eretan tersebut. Tarif yang ditarik dari pengendara bisa dikelola oleh RT atau RW setempat untuk pemeliharaan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default