Donor Darah, Jalur Doa, dan Bantuan Tulus

Erlita Irmania
0

Pengalaman Pribadi dalam Donor Darah

Di lorong kelas, terdengar suara riuh dan keluhan. Banyak siswa yang mengeluh karena berat badan mereka tidak cukup untuk bisa mendonorkan darah. Raut wajah mereka terlihat kecewa dan kesal. Hal ini menarik perhatian saya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk bertanya. Mereka menyesal karena tidak pernah memperhatikan kesehatan dan merasa bahwa tubuh kurus itu aman dan bagus. Namun, ketika situasi genting terjadi dan orang terdekat butuh pertolongan, mereka justru terhalang hanya karena berat badan.

"Katanya kalau donor minimal harus 50 kg, sedang saya 49 kg, hanya beda 1 saja kok sebegitunya?", "Padahal saya sehat-sehat saja, kok. Bugar dan pasti nggak akan lemas kalau darah diambil." Mereka masih menggerutu dan tak bisa menerima.

Saya awam tentang donor darah. Selain belum pernah, juga tidak pernah terpikirkan untuk ikut melakukannya. Mendengar orang kecewa dan mengeluh di tengah keadaan genting keluarganya, saya menjadi sedikit terusik. Bagaimana rasanya donor darah?


Orang-orang mengeluh, betul-betul meninggalkan jejak. Hampir 2 minggu saya ikut memikirkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari tahu dan melakukannya.

Suatu siang, saya bergegas menyiapkan diri untuk donor darah. Saya masukkan berat badan ke dalam list kesehatan untuk dipastikan 3 hari sebelum berangkat. Modal lainnya, saya habiskan untuk mencari tempat terbaik mendonor darah. Scroll rekomendasi dan lihat berbagai ulasan. Perihal cek kesehatan lainnya, saya tidak pikirkan, yang terpenting seminggu sebelum berangkat makan-makanan sehat tercukupi dan niat.

Daripada PMI, saya memutuskan untuk berangkat donor darah ke Rumah Sakit besar, sesuai rekomendasi yang saya dapat. Tak lupa, melakukan regis lebih dulu melalui pesan WA.

Di ruang tunggu, beberapa meja pendataan berjejer. Calon pendonor secara wajib diminta untuk mengisi data pribadi dan riwayat kesehatan. Sekitar 3-5 halaman, cukup detail. Sudah mulai terasa menegangkan. Saya dipanggil masuk ke ruang screening kesehatan. Dari mulai cek berat badan, golongan darah, HB, hingga menjawab beberapa pertanyaan seputar riwayat kesehatan (obat, alergi, haid, riwayat penyakit tertentu).

"HB cocok, oke bisa nih," ucap perawat. "Kakak nggak lagi haid kan?" tanyanya lagi untuk memastikan. Setelahnya, saya diminta untuk mencuci lengan. Kemudian ditanyakan, mau lengan kanan atau kiri? Entahlah, kelembutan pelayanan perawat membuat proses tak lagi menakutkan.

Saat berbaring dan proses pengambilan darah dimulai, rasanya biasa saja. Hanya terbawa tegang. Prosesnya sendiri ternyata tak lama, kalau saya hanya sekitar 10-15 menit selesai. Setelahnya? Lengan bekas pengambilan darah lumayan biru seperti lebam, mungkin efek baru pertama kali + dengan jumlah cc yang cukup banyak. Tak pusing, ataupun lemas.

Kebetulan saya memilih tangan kanan, maka yang saya rasakan setelahnya 1 tangan ini enteng betul seperti tak ada beban. Jadi, terasa enteng sebelah atau tak seimbang.

Lorong Doa dan Berbincang dengan Harapan

Rasa saat pengambilan darah agaknya biasa saja. Lekas membaik dan bisa hilang dalam waktu singkat. Tapi, yang membekas justru... Ketika saya datang, lorong menggema, seakan mengiring doa. 'Semoga HBmu cukup. Semoga badanmu selalu sehat dan kuat. Terima kasih sudah menguatkan kami'.

Teduh. Beberapa keluarga saling memeluk. Beberapa anak tertunduk lesu. Sekelompok Ayah tampak ngobrol untuk mengusir penat. Beberapa Ibu berkumpul berbincang dengan harapan. "Anak saya masih kurang 3 kantung", "Ibu sudah dapat belum? Golongan darah anaknya apa? Biar saya bantu", "Anak saya golongan darahnya A, masih belum cukup kantungnya", "Semoga HB saya cukup untuk donor ya, Bu", "Semoga lekas pulih anaknya, Bu", saut harap yang mengisi ruang.

Saya tertegun. Tuhan, inikah yang disebut-sebut doa paling tulus daripada dinding rumah ibadah? Kalimat yang sering terlontar, dan kini benar-benar saya dengar, berpapasan. Membuat mata berkaca-kaca tak karuan.

Seketika, seorang Ibu menghampiri saya dan tersenyum, "Baru pertama kali ya, Kak? Kalau saya rutin ke sini, anak Ibu butuh beberapa kantung darah untuk transfusi rutin," nyes saya tak mampu berkata-kata. Saya tak berani bertanya, betul-betul memilih untuk mendengarkannya bercerita.

Seorang Ibu lainnya tampak kebingungan dan raut wajahnya sedih, "Golongan darah O udah ada lagi pendonornya, Mba? Kalau ada lagi tolong kabarin ya. Masih kurang..." ujarnya bersama sang rekan. Para Ibu yang hebat ini rupanya sudah saling mengenal. Terdengar obrolan, bahwa anak-anak mereka berada di unit yang sama, tepat di lantai 7.

Membawa secarik kertas donor, mereka duduk dengan tenang. Saling menguatkan, penuh harap agar kantung darah yang dibutuhkan segera tercukupi. Juga tak ada yang lain, selain dzikir yang mengalun, dan sesekali pelukan datang dari orang-orang sekitar.

Saya baru sadar, bahwa salah satu pertanyaan yang diajukan perawat di ruang screening menjadi salah satu penentu terbesar untuk pasien, "Donor untuk siapa, Kak?". Jawabannya hanya ada 2, yakni sukarela atau untuk pasien tertentu (menyebutkan nama dan membawa kartu dari pihak keluarga). Ketika saya menyebut untuk sukarela, tapi begitu keluar ruang rupanya banyak yang membutuhkan, sepertinya sudah ajek atau tak bisa dirubah lagi (untuk orang tertentu) kecuali dalam hitungan menit awal. Disitulah saya baru mengerti, betapa pentingnya untuk bertanya lebih dulu walaupun tak saling mengenal.

Tulusnya Kasih dan Pertolongan

Ruang penantian ini, saya menyapanya lorong doa... Doa-doa mengalun dengan lembut, juga tanpa paksaan. Entahlah, saya merasa hangat di lorong ini. Seraya mengingatkan diri agar tak lupa mengucap syukur. Lorong ini, mengundang saya untuk kembali berkunjung jika ada waktu senggang. Barang kali ada kerinduan yang terpendam, tentang hangatnya ruang dan lirihnya doa orang-orang yang bersabar.

Betul saja, hati terpanggil. Selang 3 bulan, saya memutuskan untuk datang kembali. Dengan suasana yang masih sama, penuh doa dan ramahnya berbagai sambutan. Kali ini saya bertemu dengan lelaki muda, mungkin sedikit lebih tua dari saya usianya. Menunggu kantung donor, untuk Ibundanya. Sekilas, terlihat menyapa beberapa anak muda dan orang tua lainnya -- ternyata masih kerabat dekatnya yang ingin membantu.

Sebagian gugur di ruang screening, tak bisa mendonor dengan alasan kesehatan dan HB. Sebagian lain menunggu, erat berpegang tangan dan penuh harap, "Semoga golongannya cocok dan bisa." Saat dua rekan berhasil mendonorkan darahnya, lelaki muda itu buru-buru mencegat dan memberikan amplop sebagai ucapan terima kasih. Tapi, seketika ditolak dan mereka langsung mengusap punggungnya memberi dukungan.

Di sisi lain, ada seorang Ibu dan anak perempuannya yang berhasil mendonorkan darahnya. Ketika keluar ruang donor, mereka langsung memeluk si pemuda dengan penuh senyuman, selintas terdengar, "Semangat yaa, harus kuat." Saya belum pernah melihat suasana ini sebelumnya. Seketika, hanya bisa ikut menguatkan dan memberi dukungan.


Saya tak melihat hal lain, selain keramahan dan keakraban meski baru pertama kali saling menyapa. Yang saya perhatikan, saat menunggu sama-sama butuh teman untuk sekedar ngobrol dan bercerita, seraya mengusir kepenatan yang sudah mengepung berjam-jam.

Seorang Bapak menghampiri saya dan bertanya "Sudah bisa donor, Kak?". Raut wajahnya sumringah, tak segan untuk saling bercerita. Lantas saya sedikit bertanya balik, "Kalau Bapak udah sering donor atau baru pertama kali?" Ia tersenyum, "Kalau saya udah sering, rutin. Mungkin ini udah yang ke-10. Saya rutin donor ke sini dari Bogor," jawabnya. Saya tercengang, karena jauh sekali, "Udah niat Kak, untuk bantu rekan atau saudara. Bismillah selalu saya jabanin. Biasanya, naik kereta atau bis bolak-balik. Aman Kak udah terbiasa," tuturnya sambil bersiap-siap mengenakan jaket untuk bergegas pulang.

Dari lorong ini, saya belajar banyak tentang tulusnya pertolongan, baik dari orang-orang terkasih atau sekalipun dari orang yang tak dikenal sebelumnya. Terkadang, mereka yang menolong memilih untuk datang kembali, bukan untuk sekadar mendonor, melainkan memeluk rasa syukur.

Kunjungan saya kali ini, rupanya membawa dampak sekaligus menyenggol diri sendiri. Bahwa menghabiskan waktu, rupanya tak melulu soal tempat ramai -- yang penuh baju-baju, makanan, atau potret untuk media sosial.


Ketika saya datang untuk mendonor ke-2 kalinya. Ternyata, mendapat kartu 'kasih' dari perawat, sebagai penanda atau jejak kedatangan kita saat mendonor di atap yang sama. Sederhana sih, tapi siapa sangka dengan diberikannya kartu ini, ikut kegiatan donor jadi makin semangat? Serasa ingin terus memenuhi kolom yang masih kosong. Dalam arti lain, target tertata untuk meluangkan waktu berkunjung ke ruang yang mampu menyenggol rasa syukur ini.

Jika, sudah berhasil 5 kali mendonor, akan diberi semacam penghargaan berupa sertifikat cetak. Semangatnya, penghargaan ini terus hadir di setiap angka kelipatan. Tentu, tak mulus. Jatuh-bangun mendonor juga saya rasakan. Seperti efek HB kurang dan kendala kesehatan lainnya. Terkadang, kalau sudah datang tapi tak bisa mendonor, maka saya gunakan untuk menemani dan ngobrol dengan keluarga pasien atau orang sekitar.

Jika ditanya, mengenai HB atau hal lain yang harus diperhatikan untuk mendonor. Saya selalu mengingat pesan dokter, bahwa untuk mencukupi HB bisa konsumsi sayuran hijau seperti bayam dan makan ati ampela (lebih ke ati nya). Saat HB saya turun, dokter juga melarang saya untuk minum teh.

Jadi, setiap jadwal donor sudah dekat, 2 minggu sebelumnya sudah saya persiapkan. Dari mulai puasa kopi dan teh, konsumsi bayam dan ati secara bersamaan, hingga tidur yang cukup. Sebab, kalau HB sudah turun -- pulihnya tak bisa instan, dokter pasti menyarankan untuk rehat dan kembali dalam 2 minggu ke depan.

Begitulah pengalaman saya ketika ikut kegiatan donor darah. Tak semenakutkan seperti cerita-cerita yang sering beredar, malah turut terpanggil kembali. Barakallah.. Terima kasih sudah mampir membaca ulasan ini. Salam sehat dan bahagia selalu yaa untuk dirimu yang lagi membaca.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default