
Kondisi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain) di Bogor
Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain) yang berada di Kota Bogor, Jawa Barat, memiliki sejarah panjang dan menjadi salah satu tempat edukasi penting bagi masyarakat. Meskipun terlihat tua dari luar, museum ini tetap aktif beroperasi setiap hari dengan jam kerja mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Tiket masuknya pun terjangkau, yaitu Rp15.000 untuk hari biasa dan Rp25.000 pada akhir pekan.
Tampilan Luar yang Menyimpan Cerita
Dari luar, Munasain tampak tidak menarik karena cat dinding yang mulai kusam, rumput liar yang tumbuh di samping bangunan, serta jendela tua yang tampak memudar. Banyak orang mengira bahwa museum ini sudah tutup atau tidak lagi beroperasi. Namun, fakta yang sebenarnya adalah aktivitas di dalamnya masih berjalan seperti biasa, terutama saat masa kunjungan sekolah.
Di dalam, ruangan terasa sejuk dengan aroma kayu dari lantai lama yang masih terawat. Ruang pameran menampilkan berbagai diorama yang menggambarkan kehidupan masyarakat tradisional, tanaman obat, serta sistem pertanian yang mencerminkan kearifan lokal Nusantara.
Aktivitas yang Masih Berjalan
Teknisi Edukasi Munasain, Nunik, menepis anggapan bahwa museum ini sudah tutup. Ia menjelaskan bahwa kondisi fisik bangunan memang membuat orang mengira tempat ini tidak aktif. Namun, pengunjung tetap datang setiap hari, terutama dari kalangan pelajar.
“Kami operasional mulai pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. Untuk tiketnya sendiri, di weekday Rp15.000 dan di weekend Rp25.000. Kita buka setiap hari,” ujar Nunik.
Selain sebagai tempat pajangan benda-benda biologi, Munasain juga menjadi sarana pembelajaran tentang hubungan manusia dan alam sejak masa prasejarah. Namun, sejak pandemi Covid-19, beberapa program edukatif harus dihentikan sementara waktu.
Rencana Revitalisasi yang Dinanti
Nunik mengatakan bahwa pihaknya mendapat informasi bahwa revitalisasi Munasain direncanakan dilakukan pada tahun depan. Proses tersebut akan membutuhkan persetujuan dan koordinasi dari banyak pihak.
“Karena kan prosesnya panjang, butuh persetujuan dan koordinasi dari banyak pihak,” lanjut dia.
Revitalisasi ini diharapkan bisa menjawab tantangan museum di era digital, yang kini harus bersaing dengan berbagai bentuk hiburan dan media edukasi lain. Terakhir kali, Munasain mengalami revitalisasi pada tahun 2016.
Sejarah Singkat Munasain
Sebelum berganti nama menjadi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain), tempat ini dikenal sebagai Museum Etnobotani Indonesia yang didirikan pada tahun 1982. Fokus utama koleksinya adalah hubungan manusia dengan tumbuhan, khususnya dalam konteks budaya, pengobatan tradisional, pangan, hingga ritual.
Setelah mengalami pengalihan kelembagaan dari LIPI ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Munasain dihadapkan pada tantangan baru: memperbarui wajahnya agar tetap relevan, tanpa kehilangan identitas lama.
Tanggapan Pengunjung
Rencana revitalisasi itu disambut positif oleh sejumlah pengunjung. Rani (25), salah seorang warga Bogor, mengaku senang mendengar kabar baik tersebut. Baginya, Munasain bisa menjadi jendela edukasi bagi generasi muda.
Sementara itu, Jihan (31), warga Bogor yang kerap melintas di depan museum, mengaku belum pernah masuk karena tampilan luar bangunan yang terlihat kusam. Ia berharap revitalisasi dapat membantu meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung.
Rizky (22), seorang mahasiswa, menilai bahwa kurangnya informasi juga membuat museum tampak sepi. Ia menyarankan agar revitalisasi dibarengi dengan strategi promosi yang lebih kreatif, seperti pameran tematik atau kolaborasi dengan komunitas seni.
Antara Sepi dan Harapan
Meski tampak tenang dari luar, aktivitas di dalam Munasain tak pernah benar-benar berhenti. Setiap kala masih ada rombongan sekolah yang datang untuk belajar tentang keanekaragaman hayati dan budaya Nusantara.
Bagi Nunik dan rekan-rekannya, menjaga museum tetap hidup di tengah keterbatasan bukan perkara mudah. Mereka harus memastikan koleksi tetap terawat, ruang pamer bersih, dan pengunjung mendapatkan pengalaman edukatif yang berkesan.
“Kami berharap, iya, rencananya tahun depan insya Allah (direvitalisasi), semoga,” kata Nunik dengan nada optimistis.
Revitalisasi nantinya diharapkan bukan hanya memperbarui tampilan fisik bangunan, tetapi juga menghadirkan cara baru dalam menyampaikan pengetahuan kepada pengunjung. “Memang di sini juga masih banyak sekali yang harus dibenahi. Kita kan harus mengikuti zamannya, walaupun ini museum. Harusnya kita punya lebih banyak media-media yang sesuai tren sekarang, biar makin menarik buat generasi muda,” ujar Nunik.